Senin, 07 Mei 2012

KECERDASAN INTELEKTUAL (INTELIGENSI) I. PENDAHULUAN Kecerdasan intelektual ditemukan pada sekitar tahun 1912 oleh William Stern. Digunakan sebagai pengukur kualitas seseorang pada masanya saat itu, dan ternyata di Indonesia juga masih menggunakannya. Kecerdasan ini terletak dibagian otak bagian Cortex (kulit otak). Orang berpikir menggunakan pikiran (intelek)-nya. Cepat tidaknya dan terpecahkan atau tidaknya suatu masalah tergantung kepada kemampuan inteligensinya. Dilihat dari intelegensinya, kita dapat mengatakan seseorang itu pandai atau bodoh, pandai sekali/cerdas (genius) atau pandir/dungu (idiot). Intelegensi merupakan salah satu dari berbagai kejiwaan yang sulit dipahami. Padahal sudah tidak diragukan lagi, bagaimana besar peranannya dalam berbagai bidang kehidupan, khususnya dalam nidsng pendidikan dan pengajaran. Walaupun terdapat berbagai anggapan bagaimana peranan inteligansi itu, namun paling tidak, terdapat anggapan umum bahwa inteligensi merupakan salah satu faktor yangikut menentukan berhasil tidaknya belajar seseorang. Oleh sebab itu, tidaklah mengherankan, bila masalah ini telah mengundang minat dan perhatian para ahli ilmu jiwa pendidikan, dan kemudian meluas ke kalangan ahli ilmu jiwa lainnya. Untuk mengkaji dan membahas “apakah inteligensi itu,” baik secara perorangan maupun kelompok. II. RUMUSAN MASALAH A. Apa pengertian Kecerdasan intelektual(inteligensi)? B. Apa faktor-faktor yang mempengaruhi inteligensi? C. Bagaimana tingkatan inteligensi? D. Bagaimana teori inteligensi? III. PEMBAHASAN A. Pengertian Kecerdasan Intelektual(Inteligensi) Intelegensi berasal dari bahasa Inggris “Intelligence” yang juga berasal dari bahasa Latin yaitu “Intellectus dan Intelligentia”, yang artinya akal, kecerdasan, terpelajar. Ada beberapa rumusan definisi inteligensi yang dikemukakan para ahli psikologi. Namun, karena antara definisi yang satu dengan yang lainnya berbeda, maka belum diperoleh satu definisi pun yang tepat. Oleh karena itu, untuk memperoleh pengertian yang lebih jelas tentang intelegensi, berikut ini adalah beberapa definisi yang dirumuskan oleh para ahli. 1. Edward Thorndike Menurut Edward, intelligence is demonstrable in ability of the individual to make good responses from the stand point of truth or fact. 2. William Stern Wiliiam berpendapat bahwa inteligensi kesanggupan jiwa untuk menghadapi dan mengatasi keadaan-keadaan atau kesulitan baru dengan sadar, dengan berpikir cepat dan tepat. 3. Bigot-Khostamm Menurut Bigot, inteligensi adalah suatu kemampuan untuk melakukan perbuatan jiwa dengan cepat. 4. Witherington Menurutnya inteligensi bukan suatu kekuatan, bukan suatu daya, bukan suatu sifat. Inteligensi adalah suatu konsep, suatu pengertian. 5. David Wechsler (1958) Beliau mendefinisikan inteligensi sebagai kemampuan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkungannya secara efektif 6. Suryabrata (1982) Intelegensi didefinisikan sebagai kapasitas yang bersifat umum dari individu untuk mengadakan penyesuaian terhadap situasi-situasi baru atau problem yang sedang dihadapi. Dari beberapa pengertian di atas, secara garis besar dapat disimpulkan bahwa inteligensi adalah suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional. Oleh karena itu, inteligensi tidak dapat diamati secara langsung, melainkan harus disimpulkan dari berbagai tindakan nyata yang merupakan manifestasi dari proses berpikir rasional itu. B. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Inteligensi Fator-faktor yang dapat mempengaruhi inteligensi sehingga terdapat perbedaan inteligensi seseorang dengan yang lain adalah: a. Pembawaan Pembawaan ditentukan oleh sifat-sifat dan ciri-ciri yang dibawa sejak lahir. Orang itu ada yang pintar dan ada yang bodoh, meskipun menerima pelajaran dan pelatihan yang sama, perbedaan-perbedaan itu masih tetap ada. b. Kematangan Tiap organ dalam tubuh manusia mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Tiap organ(fisik maupun psikis) dapat dikatakan telah matang jika ia telah mencapai kesanggupan menjalankan fungsinya masing-masing. c. Pembentukan Pembentukan ialah segala keadaan di luar diri seseorang yang mempengaruhi perkembangan inteligensi. Dapat kita bedakan pembentukan sengaja (seperti yang di lakukan di sekolah-sekolah) dan pembentukan tidak sengaja(pengaruh alam sekitar). d. Minat Minat mengarahkan perbuatan kepada suatu tujuan dan merupakan dorongan bagi perbuatan itu. Dalam diri manusia terdapat dorongan-dorongan yang mendorong manusia untuk berinteraksi dengan dunia luar. e. Kebebasan Kebebasan dapat diartikan bahwa manusia itu dapat memilih metode-metode tertentu dalam memecahkan masalah-masalah. Dengan adanya kebebasan ini berarti bahwa minat itu tidak selalu menjadi syarat dalam perbuatan inteligensi. C. Tingkatan inteligensi Binet dan Simon membagi tingkatan inteligensi individu menjadi 8 kelompok sebagai berikut: Interval Predikat IQ 140 keatas Sangat cerdas IQ 120-140 Cerdas IQ 110-120 Pandai IQ 90-110 Normal IQ 70-90 Bodoh IQ 50-70 Debil IQ 30-50 Embisil IQ dibawah 50 Idiot Dari table diatas terlihat bahwa pada setiap interval terdapat predikat dari tingkat inteligensi individu yang bersangkutan. Adapun penjelasan dari tabel tersebut adalah: a. Idiot (IQ 0-30) Tungkatan ini termasuk kelompok individu terbelakang. Mereka tidak dapat berbicara dan hanya mampu mengucapkan beberapa kata saja. Ia juga tidak mampu mengurus diri sendiri, makan minum, berpakaian dan lain-lain. b. Embisil (IQ 30-50) Tingkatan ini masih dapat belajar bahasa, dapat mengurus dirinya sendiri, dan dapat diberi tugas ringan, seperti mencuci piring dan mengepel lantai. Namun denagn pengawasan dan disertai kesabaran. IQ-nya rata-rata sama dengan anak normal yang berumur 3-7 tahun, namun mereka tidak bisa dididik di sekolah bersama dengan anak-anak yang normal. c. Debil (IQ 50-70) Individu yang termasuk debil atau moron ini sampai pada tigkat tertentu, dapat belajar membaca, menulis, dan berhitung, dalam hitung-hitungan yang sederhana. Bahkan dengan latihan-latihan yang intensif, mereka dapat memperoleh ketrampilan-ketrampilan sederhana. d. Bodoh atau Dull (IQ 70-90) Kelompok bodoh ini kecerdasannya di bawah kelompok normal, dan di atas kelompok terbelakang. Kelompok ini agak lambat dalam hal belajar, meskipun demikian diantara mereka ada yang sukar menyelesaikan kelas terakhir di SMP, juga ada yang dapat menyelesaikan SMP namun agak sulit untuk menyelesaikan pendidikan di SMA. e. Normal (IQ 90-110) Kelompok ini merupakan kelompok yang terbesar presentasinya di kalangan masyarakat. Mereka mempunyai IQ yang sedang atau normal (rata-rata). f. Pandai (IQ 110-120) Tingkatan ini termasuk kategori high average (pandai atau di atas normal). Dengan kata lain, mereka tergolong kelompok normal yang berada pada tingkatan tertinggi. g. Cerdas (IQ 120-140) Individu yang termasuk kelompok ini pada umumnya mampu menyelesaikan pendidikan akademik. Apabila dalam pendidkan mereka disatukan dengan kelompok normal, maka individu cerdas ini lazimnya menjadi pemimpin kelas (rapid learner). h. Sangat Cerdas (IQ 140 ke atas) Tingkatan ini termasuk kelompok individu yang mempunyai kecerdasan yang luar biasa (over genius), sehingga walaupun tidak sekolah mereka akan mampu menemukan dan memecahkan suatu masalah yang sulit dan rumit. D. Teori-teori Intelegensi a. Teori Dwi Faktor, Spearman Spearman adalah seorang ahli statistik bangsa inggris, ia berpendapat intelegnsi terdiri dari ebilitas umum (G) dan ebilitas-ebilitas khusus (S). General faktor ini adalalah faktor yang mendasari semua tingkah laku individu, apapun bentuk dan jenis tingkah laku seseorang, di dalamnya mesti ada faktor G tersebut. Sedangkan spesial faktor hanya berfungsi pada tingkah laku tertentu saja. Dengan demikian maka bila individu melakukan dua macam tingkah laku, faktor G sama, tetapi faktor S berbeda, ilustrasi yang mungkin bisa memprjelas adalah sebagai berikut: Mengingat sesuatu /S1/tingkah laku 1 = G + S1 Berpikir sesuatu /S2/tingkah laku 2 = G + S2 Menghayal sesuatu /S3/tingkah laku 3= G + S3/ S4/ .................... 4 = G + S4. Selanjutnya sperman mengatakan faktor G sangat tergantung kepada dasar, sedang faktor S itu diperngaruhi oleh lingkungan. b. Teori Multi Faktor Menurut Thurston faktor G itu tidak ada, yang ada adalah “ Group Factor” atau faktor C yang berfungsi pada sejumlah tingkah laku dan faktor S, jumlahnya sebanyak tingkah laku khusus yang dilakukan individu yang bersangkutan. Adapun faktor C sebanyak tujuh sebagai berikut: a. Mudah/ mempergunakan bilangan b. Ingatan c. Kemampuan menangkap hubungan percakapan atau bahasa d. Tajam penglihatan e. Kemampuan menarik kesimpulan dari data-data yang ada f. Cepat mengamati g. Pemecahan masalah c. Teori Kuantitas Intelegensi Percobaan Thorndike terhadap tingkah laku binatang-binatang dan anak-anak dalam situasi belajar, menggiring beliau untuk berpendapat bahwa “ kualitas intelek tergantung terhadap kuntitas hubungan dari syarat-syarat penghubung”. Uraian berikutnya tingakah laku adalah sebagai hasil pengaruh dari stimuli-stimuli atas oraganisme untuk memperlajari sesuatu bahan baru akan menjadi lebih mudah apabila telah dimiliki sejumalah gabungan pengalaman-pengalaman yang sama yang dibutuhkan pada situasi baru, yang telah dibentuk dalam praktek sebelumnya. Individu yang berbeda dengan yang lain, misalnya lebih kuat inteleknya atau lebih tinggi, ini tidak diakibatkan oleh proses psikis yang baru, melalinkan oleh jumlah hubungan-hubungan yang lebih besar dari kelompok peristiwa-peristiwa biasa. Teori tersebut diatas nampaknya banyak yang merasa berat untuk menerimanya, sebab Thorndike memberikan makanan terlampau besar pada fakta, bahwa tingkahlaku seseorang tergantung atas sejumlah hubungan-hubungan peristiwa yang terjadi dalam otak dan susunan urat-urat saraf sesuatu yang mutlak harus ada bagi aktivitas intelektualnya. Selanjutnya Thorndike mengemukakan bahwa individu mungkin tidak mampu menyelesaikan tes akademis, sebagai gambaran intelegensinya, namun mungkin mempunyai tingkat abilitas yang relatif tinggi dalam hal-hal yang praktis( mechanical intellegence) atau dalam hal-hal yang berhubungan dengan masyarakat ( social intellegence), pandangan ini nampak lebih bisa diterima oleh orang-orang yang berkencimpung dalam pendidikan. IV. KESIMPULAN 1. Inteligensi adalah suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional. Oleh karena itu, inteligensi tidak dapat diamati secara langsung, melainkan harus disimpulkan dari berbagai tindakan nyata yang merupakan manifestasi dari proses berpikir rasional itu. 2. Fator-faktor yang dapat mempengaruhi inteligensi antara lain adalah: pembawaan, kematangan, pembentukan, minat, kebebasan. 3. Binet dan Simon membagi tingkatan inteligensi individu menjadi 8 kelompok diantaranya: sangat cerdas(IQ 140 ke atas), cerdas(IQ 120-140), pandai(IQ 110-120), normal(IQ 90-110), bodoh(IQ 70-90), debil(IQ 50-70), embisil(IQ 30-50), idiot(IQ dibawah 50). 4. Teori-teori dalam inteligensi ada 3 yakni Teori Dwi-faktor, Teori Multi-faktor, dan Teori kuantitas inteligensi. V. PENUTUP Demikian makalah ini kami buat, mudah-mudahan dengan adanya makalah ini dapat memberikan pengetahuan dan manfaat bagi kita semua. Untuk kesempurnaan makalah ini, kami selaku pemakalah bersedia menerima kritik dan saran yang membangun untuk menuju yang lebih baik nantinya. Kami selaku pemakalah mohon maaf atas kekurangan ketidaksempurnaan makalah ini, untuk perhatiannya kami ucapkan terimakasih. DAFTAR PUSTAKA Abror, Abdur Rochman. 1993. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya. Baharuddin. 2010 . Psikologi Pendidikan Refleksi Teoritis terhadap Fenomena. Yogyakarta: Ar-Ruz Media Group. Mustaqim. 2001. Psikologi Pendidikan. Semarang: Pustaka Pelajar. Purwanto, Ngalim.2011. Psikologi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosda Karya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar